SM-3T : The Life Part 1


Saya kan kemarin gantungin The Beginning chapter dengan something unexpected happened. Well, something indeed happened and it was not something pleasant. Here was the story...

Jadi pagi-pagi kami harus berkumpul jam 07.00 am karena kami harus mempersiapkan segala hal. Koper-koper sudah kami siapkan dan sarapan sudah disantap, jadi jam 08.00 am kami berangkat menuju Dinas Pendidikan Kutai Barat. Dag dig dug hati saya karena saya berdoa kalau saya ditempatkan di sekolah yang enak dan bersama setidaknya salah satu teman saya. Saya tidak mau sendiri.

Sesampainya di Dinas Pendidikan, kami menuju aula pertemuan di mana kami harus menunggu Angkatan IV dan dosen untuk melakukan gladi kotor. Di gladi kotor inilah untuk pertama kalinya kami menyanyikan Mars SM-3T di tanah perantauan. There was something weird inside my heart.

Sekitar dua jam kemudian, ruang aula telah terisi tidak hanya dosen dan Kepala Dinas Pendidikan Kutai Barat yang waktu itu diwakilkan, tapi juga kepala-kepala dari sekolah-sekolah yang telah ditunjuk untuk menampung peserta SM-3T. I could hear the fast beating of my heart when my eyes scanned the faces of the Headmasters in the room. Which one was mine?

Satu persatu dari kami dipanggil. Ketika nama dipanggil, tidak ada kepala sekolah yang berdiri, menandakan bahwa kepala sekolah tidak hadir. Saya sudah mulai was-was. Setelah acara selesai, saya langsung bertanya kepada bagian penyaluran peserta SM-3T dan ternyata terdapat misunderstanding. Mereka menginginkan peserta dengan background pendidikan PKWN sedangkan saya Bahasa Inggris. Wah saya sudah panik dan merasa dianggap tidak berguna hahahaha yah walau sebenarnya saya juga mengerti alasan mereka. Dahulu sekolah itu menerima SM-3T dari PKWN dan tidak ada expektasi akan menerima Bahasa Inggris.

Akhirnya saya disuruh menunggu di kantor dan Pak Dome, salah satu staff, menelepon beberapa orang. Lama sekali tidak ada kabar bahkan sampai salah satu staff mengatakan kalau saya tidak mendapatkan sekolah maka saya disuruh ngajar di dinas saja. Huuuuuaaaaa (T_T) saya kan tidak kesini untuk ngajar orang S1-S2. Saya datang ke Kutai Barat untuk mengajar siswa-siswi yang tidak mendapatkan kesempatan dan keuntungan untuk belajar Bahasa Inggris seperti sekolah-sekolah maju di kota. Saya ingin mengabdi di sekolah bukan Dinas.

Mata saya menangkap seorang bapak yang tampak senang melihat saya duduk di kantor. Ternyata beliau adalah Pak Yos, kepala sekolah SMA Sari Mentanang yang sedang mencari guru SM-3T karena sekolahnya benar-benar kekurangan guru. Akhirnya tanpa basa basi dan menunggu lama saya dikirim ke SMA Sari Mentanang. 

Di tengah perjalanan saya diajak mengobrol kalau saya akan ditempatkan di rumah satu-satunya guru Muslim yang ada di sana bernama Pak Misbah. Namun hal itu dibatalkan ketika ada kabar bahwa akan ada seorang peserta SM-3T perempuan dari Undana yang akan dikirim juga ke SMA Sari Mentanang. Saya dapat teman deh. Namanya Ryma, anak Fisika.

Kami diantar ke sebuah asrama SMP Damai 1 untuk tinggal di sana. Di asrama ini dulu dihuni SM-3T angkatan I dan II dari Undana untuk SMP namun setelah itu tidak dapat lagi. Namun ternyata SMA Sari Mentanang telah kedatangan peserta SM-3T laki-laki yang menginap di pastory di salah satu guru, ibu Afli yang menjabat guru kesenian dan seorang pendeta di Desa Mendika. Namanya Arif, anak Geografi. Akhirnya setelah disepakati kami pindah ke pastory milik Ibu Afliana Tanono.

Me, Ryma and Arif
Di SMA Sari Mentanang, kami ditugasi tidak hanya satu mata pelajaran yang sesuai dengan backgroung ilmu kami, namun juga tambahan. 
Saya mengajar Bahasa Inggris (kelas 1 dan 2) dan Pendidikan Kewarganegaraan (kelas 3; Funny, I know)
Ryma mengajar Fisika, Kimia (kelas 1) dan Matematika (kelas 3)
Arif mengajar Geografi dan Sejarah (kelas 1-3)

Di sinilah di mana kehidupa saya dimulai...

TBC
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment