Subscribe Us

Responsive Advertisement

Pidato Pak Menteri Pendidikan dan Sebuah Respon yang Kurang Paham #Teacher'sDay



Apabila Anda adalah warga negara Indonesia, Anda pasti tahu akan pidato Menteri Pendidikan yang viral. Pidato singkat yang tidak lebih dari dua halaman itu memancing banyak tanggapan positif dari berbagai kalangan. Bahkan ada yang menyebut bahwa mereka seperti melihat secercah cahaya dalam kegelapan yang amat pekat. Teman-teman saya yang dulu meragukan Beliau bahkan mengakui bahwa pidato ini mewakili para guru di Indonesia. 

Tidak dipungkiri bahwa pidato Pak Nadiem ini sangat out of the box. Bagi saya pidato ini bagaikan sebuah angin segar dari berbagai retorika-retorika dan kata-kata mutiara tentang bagaimana guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di setiap peringatan hari guru tanpa ada esensi dan langkah yang berarti. Bahkan setiap kali ada pidato dari Menteri Pendidikan di Hari Guru, banyak yang tidak begitu memperhatikan dan mendengarkan. Kenapa? Ya karena isinya hanya itu itu saja. Berbeda kata namun sama saja isinya. Tidak ada yang istimewa.

Namun, pidato Pak Nadiem ini mampu menyita perhatian publik. Bahkan siswa-siswa saya yang biasanya berpetualang ke negeri dongeng setiap amanat (apalagi amanat dari Menteri yang biasanya lama dan panjang), tertarik dengan isi dari pidato ini.

Salah satu poin yang menjadi perhatian ada lah kata "Perubahan" di dalam pidato Pak Menteri. Pak Nadiem menginginkan para guru di Indonesia untuk melakukan perubahan tanpa harus menunggu instruksi atau aba-aba. Pak Menteri ingin para guru di Indonesia melakukan perubahan-perubahan sekecil apapun di lingkungan mereka. Poin ini adalah poin yang paling saya suka.

Hanya saja saya menemukan sebuah respon yang menurut saya kurang memahami apa yang dimaksud oleh Pak Nadiem. Dalam sebuah artikel yang saya baca, penulis tersebut menyinggung tentang susahnya bagi guru untuk membuat perubahan apabila kesejahteraan saja mereka tidak punya. Penulis menuntut bahwa Pak Nadiem seharusnya memikirkan kesejahteraan guru dahulu sebelum menuntut mereka untuk melakukan perubahan. Satu hal yang terbesit dalam benak saya ketika membaca kalimat ini.

Mau nunggu sampai kapan? 

Kesejahteraan bagi para guru itu sangat penting. Hal ini karena guru juga manusia. Merupakan suatu hak asasi bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Hal ini bukan berarti apabila masih banyak guru di Indonesia yang belum mendapatkan kesejahteraan maka pemerintah telah melanggar hak asasi guru. Apakah pemerintah sudah berupaya untuk mensejahterakan guru? Pasti sudah hanya saja memang tidak dapat tuntas dalam waktu singkat. CPNS, Sertifikasi Guru dan Gaji ke-13 merupakan sebuah upaya pemerintah untuk mensejahterakan guru. Apakah sudah mencakup semua guru? Tentu saja tidak. Banyaknya guru honorer yang ada di Indonesia dan bertambahnya jumlah guru honorer ini setiap tahun membuat beban pemerintah akan tuntutan bertambah. 

Banyak yang bilang bahwa guru honorer tugasnya sama dengan guru PNS. Bahkan ada yang bilang bahwa guru honorer malah jauh lebih berkompeten dibanding guru PNS. Hal ini memang ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar. Menurut pengalaman dan observasi saya yang pernah mengajar di 5 sekolah yang berbeda, bagaimana seorang guru bekerja itu berpusat pada satu hal yaitu "Hati".

Adakah seorang guru PNS yang memang bersungguh-sungguh untuk mendidik murid-muridnya? Ada 

Adakah guru honorer yang bersungguh-sungguh mendidik muridnya? Ada 

Apakah ada guru PNS yang malas-malasan ngajar muridnya dan hanya makan gaji buta? Ada

Apakah ada guru honorer yang juga malas-malasan ngajar? Ada

Apakah kalau semua guru sejahtera pendidikan Indonesia tiba-tiba maju? Belum tentu

Karena menjadi guru adalah panggilan jiwa, bukan hanya panggilan gaji. 

Ada sebuah cerita dari kakak Alumni SMA saya yang lulusan Universitas di Jepang yang sekarang menjadi dosen. Dia bercerita bahwa salah satu temannya dari Indonesia berkali-kali gagal dalam mencari pekerjaan dan akhirnya berkata, "Yah kalau gini ya sudah. Jadi guru saja lah."

Guru yang berawal dari seperti ini apakah akan membawa perubahan walaupun dia diberi gaji setinggi langit? Tidak.

Kakak alumni saya pun berkata, "Sorry, Mas. Tapi menjadi pengajar itu modalnya hati bukan karena tidak ada pilihan lain. Karena yang kita hadapai itu masa depan bangsa, bukan hanya masalah gengsi nganggur dan perut jenengan saja. Jadi maaf Mas, kalau jenengan jadi guru hanya karena itu, saya kasihan sama murid-murid jenengan nanti."

Dari cerita ini saya menemukan fakta yang memang banyak orang yang memutuskan jadi guru karena hal-hal lain. Jadi walau mau mereka PNS, honorer, guru tetap, guru part time atau apalah, gaji seberapapun tidak akan membawa perubahan dan kemajuan apapun tanpa ada panggilan hati dan dedikasi yang tinggi untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. 

Dosen saya pernah berkata, "Kalau ingin kaya jangan kamu jadi seorang pengajar baik itu guru atau dosen. Karena mendidik seseorang itu butuh hati dan pikiran yang tulus, bukan hati dan pikiran yang hanya uang dan uang. Jadi pedagang saja kalau pengen kaya."

Apa fungsi dari gaji ke13 dan sertifikasi itu?

Dosen saya yang lain juga pernah berkata, "Tahu nggak kalian kenapa ada gaji ke-13, tunjangan guru dan sertifikasi? Tujuan kecilnya adalah untuk kesejahteraan guru, tapi tujuan lebih besarnya adalah sebuah modal yang diberikan pemerintah agar guru menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dengan media yang diperlukan. Jadi jangan ada pikiran kalau gaji tambahan itu untuk kalian beli mobil, tapi untuk siswa kalian."

Dari dua dosen saya ini saya belajar bahwa mau seberapa besar gaji seorang guru, mendidik murid itu adalah yang yang paling utama dan itu hanya tidak dapat diukur dengan berapa nominal gaji. Berapapun gaji yang diterima oleh seorang guru, tidak akan membuat perubahan yang berarti apabila tidak ada niat yang tulus dari seseorang tersebut untuk mendidik murid-muridnya.

Bagi saya, guru berpenghasilan tinggi yang mendidik dengan hati tidak hanya akan berpikir "Alhamdulillah dapat gaji ke-13, bisa makan enak.", tapi juga "Alhamdulillah ada gaji ke13, bisa buat media apa ya buat besok? buat boneka untuk narrative text? beli kertas-kertas warna-warni untuk metode cooperative learning?"

Lalu perubahan apa yang bisa diberikan oleh guru-guru padahal mereka belum sejahtera itu? 

Perubahan apa yang dimaksud oleh Pak Menteri?

Coba dipikirkan terlebih dahulu...

Post a Comment

0 Comments