SM-3T : The Life Part 3C (Rewang dan Resepsi)

Hello everyone, I will continue the next part of my SM-3T experience. Okay, di part 3C ini saya akan menceritakan tentang budaya gotong-royong yang memang alhamdulillah telah mengakar di dalam tubuh masyarakat Indonesia. Salah satu kegiatan gotong royong adalah 'rewang' yang juga 'bantu-bantu memasak'. Nah kata 'rewang' ini berasal dari Bahasa Jawa, namun ketika saya berada di Kalimantan, kata ini juga digunakan. Mungkin karena banyaknya transmigran dari Jawa ke sana. Selain kata 'rewang', kata 'payu' yang artinya laku juga digunakan untuk penduduk lokal.

So, ada seorang gadis cantik dari NTT yang bekerja di sebuah rumah milik warga berada di salah satu desa. Nama warga tersebut adalah Ibu Dina, namun sayangnya saya lupa nama mbaknya hahahahah. Jadi mbaknya ini jatuh cinta dengan warga lokal dan memutuskan untuk menikah. Betapa baiknya ketika Ibu Dina lah yang mengurus semua pernikahan.

Saya dan teman-teman saya tentunya harus ikut rewang di sana. Nah, uniknya rencana pernikahan itu pas ada banjir pertama. Tentu bukan salah mereka karena banjir biasa datang pada bulan November-Desember, bukan Februari. Nah, karena banjir ini kami berangkat menggunakan perahu kecil bersama teman-teman.
Setelah sampai di sana kami ditugaskan memotong wortel dan kentang untuk bahan soto Kutai. Karena kami dibantu banyak anak-anak makan pekerjaan cepat selesai. Namun ada satu pekerjaan yang harus dikerjakan kami, yaitu mengolah bahan salah satu makanan tradisional yang saya lupa namany. Harus kami karena digunakannya pemarut listrik. Jadi Ryma lah yang memarut dan saya yang mengumpulkan parutan dan mencampurnya dengan potongan daun pandan. Campuran ini akan di tambahkan dengan ketan dan dimasukkan ke bambu yang kemudian dibakar.

Nah, esok harinya adalah hari pernikahan. Pernikahan digelar di gereja persis di depan depan rumah jadi saya duduk di luar gereja dan foto dengan pengantin ketika mereka keluar. Yah, saya nggak dapapt fotonya sih karena kamera warga yang dipakai. 

Ketika menuju ke tempatr esepsi yang berada di desa sebelah, tentunya kami pergi menggunakan perahu. Sebenarnya saya sudah merasa bahwa saya ahrus memasukkan hp ke kantong plastik. Entah kenapa tiba-tiba hal itu muncul di kepala. Namun akrena sudah berkali-kali naik perahu dan selamat, ya sudahlah nggak usah begitu pikir saya.

Ketika berangkat semua baik-baik saja. Resepsi pernikahan seperti biasa dengan acara adat yang hanya untuk keluarga. Nah pulangnya saya dan Ryma yang sial. Jadi saya, Ryma, Dendri dan dua orang keponakan bu pendeta pulang ke menggunakan perahu yang dikemudikan seorang anak muda. Ada seorang anak yang menumpang. Baru beberapa detik, kapal oleng dan menuju kearah kiri. Saya sempat takut karena arah kiri itu adalah ke arah kanal yang menuju ke sungai. Kalau kami sampai nyemplung ke kanal, kami akan terbawa arus kuat ke sungai. Di kapal hanya 3 orang saja yang bisa berenang, yaitu Ryma si anak muda dan saya, sisa tiganya tidak. Apalagi nggak mungkin kalau melawan arus deras begini.

Kecepatan tidak terduga yang entah bagaimana membuat kami terus menuju ke hutan. Akhirnya kapal karam di pinggir hutan. Saya dan teman-teman langsung berenang menggapai dahan-dahan. Saya tidak pandai berenang, namun apa daya untuk menyelamatkan diri. Arus dangat deras sehingga kami tidak bisa pergi.

Si Dendri yang tidak bisa berenang langsung manjat pohon terdekat sambil teriak "Haduh hp saya mati. Siapa nanti yang mau ganti." Haduuhh padahal kami sedang berenang malah ini anak pedulinya sama hape (-__-) Anak muda yang mengantar kami sapai teriak "Dendri, bantu saya biar kakak-kakak bisa injak in kapal." Ya karena kapal alhamdulillah nyangkut di batang pohon. Setelah memastikan kami berpegang pada ranting-ranting pohon, maka si anak muda itu pergi, mencari batuan katanya.

Kami menunggu bantuan sekitar sepuluh menit sambil meratapi dan sedikit bercanda hapi dan camera kami yang rusak di tas Ryma hehehehe ya saya sih tidak begitu peduli, toh hp murah juga. Namun hape dan kamera mahal teman-teman saya yang kasihan. Apalagi kamera itu milik Arif yang stay di rumah. Alhamdulillah, hp kami bisa digunakan pasca banjir, namun lain cerita dengan si camera.

Jujur ini pengalaman becana paling melekat di ingatan saya, karena jiwa saling membantu yang membuat pertemanan saya dan mereka menjadi lebih erat. Kami saling tarik-menarik, menahan beban satu sama lain agar tidak tenggelam terutama mereka yang tidak bisa berenang. Banyak luka yang dialami teman-teman saya karena terkena sabetan ranting-ranting berduri. Pipi, telinga, tangan berdarah-darah. Alhamdulillah saya tidak luka sedikitpun. Hanya goresan kecil itu pun tidak berdarah. Kepala saya yang berkali-kali kena sabetan ranting terlindungi pleh hijab yang saya kenakan. Tangan-tangan bebas luka walau meraih dan berpegangan pada ranting yang beberapa berduri sebelum saya pindah ke pohon. Sampai-sampai banyak yang tanya dan saya hanya bisa bilang kuasa Allah SWT. Saya sangat bersyukur dan akhirnya membantu merawat teman-teman saya karena sayalah satu-satunya yang memiliki P3K. Dari alkohol, obat merah, perban, dan plester semua saya berikan untuk teman-teman.

Yah begitulah pengalaman bencana saya. Rasa syukur saya panjatkan sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang melindungi saya selama SM-3T terutama ketika bencana melanda saya dan teman-teman sampai kami dengan selamat pulang kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga.

Saya lanjutkan ke part 3D. See you there...
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment