SM-3T : The Life Part 3B (Kabut Asap dan Banjir)


Nah untuk Part 3B ini saya akan menceritakan tentang bencana alam. Kenapa?  Karena saya belum pernah terkena bencana alam. Saya pengen merasakan bagaimana penderitaan mereka yang terkena bencana sehingga dapat menambah rasa kepedulian saya.

Ketika saya berada di desa Mendika, ada dua bencana alam yang saya alami, yaitu kebakaran hutan dan banjir. Kebakaran hutan tahun 2015 kemarin memang menjadi salah satu bencana terburuk di tahun itu. Entah berapa luas hutan yang telah terbakar. Kabut asap yang melanda desa saya juga termasuk cukup parah. Kata penduduk sekita sih biasanya tidak pernah separah itu. Alasannya ternyata karena di Jengan Danum dan beberapa kecamatan sebelah terjadi kebakaran.

Salah satu pengalaman menakutkan saya adalah ketika saya harus membuat handout untuk siswa dan saya membutuhkan fotokopi. Fotokopi letaknya di kecamatan Jengan Danum yang berjarak 15 menit dari kecamatan Damai. Saya pergi ke sana diantar keponakan ibu pendeta, Marlin. Ketika kami berangkat, tidak ada yang terjadi, hanya asap yang masih tipis karena dampak kebakaran di provinsi lain. Ketika pulang alangkah terkejutnya saya. Hutan di sebelah jalan menuju Jengan Danum terbakar. Banyak mobil pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api. Hutan di sebelah kiri dan kanan di jalan menuju desa Mendika terbakar. Padahal itu jalan satu-satunya ya itu. Akhirnya, Marlin nekad aja. Wah dag dig dug juga saya rasanya berkendara di tengah api. Takut ada pohon jatuh.

Rabu malam, saya dan Arif pergi ke pasar malam. Di daerah sana pasar hanya buka 2 kali seminggu di 2 tempat yang berbeda. Rabu malam di Jengan Danum dan Sabtu Psgi di Damai Kota. Saya dan Arif takut sekali karena di perjalanan kami melihat langit yang merah, tanda bahwa ada hutan yang terbakar.

Ikut terbakarnya hutan-hutan di sekitar wilayah Kutai Barat menyebabkan kabut asap sangat parah. Sekolah sudah diliburkan selama 2 minggu ketika kabut sudah membuat banyak warga masuk rumah sakit. Berikut foto-foto kabut asap di desa saya:

 Yang diatas ini adalah kondisi asap di halaman rumah saya. Lumayan serem ya. Saya saja sampai malas keluar rumah karena ahrus memakai masker.

 Ini adalah jalan keluar desa saya untuk menuju jalan utama. Seperti jalan menuju kawasan angker di film-film horror ya ahahaha

 Nah kalau gambar ketiga ini adalah gambar jalan menuju sekolah saya. Apa Anda melihat gedung sekolah? Kalau ada menjawab ya karena itu ada papan nama institusi, jawabannya salah. Itu adalah papan nama SD di sebelah SMA saya. SMA saya gedungnya tepat di sebelah kanannya hahahaha
Parah banget ya...

Nah, selanjutnya saya akan membahas tentang banjir...

Ya karena daerah tempat pengabdian saya langganan banjir. Setahun bisa 3 sampai 4 kali banjir. Tingginya pun bervariasi namun minimal tetap seperut orang dewasa. Dampaknya kalau banjir sekolah libur karena posisi tanah sekolah lebih tinggi daripada kampung-kampung di mana guru dan siswa-siswa tinggal. 

Ramalan banjir dari para penduduk biasanya jadi acuan. Terkadang benar, terkadang tidak. Ketika saya di sana, penduduk sudah memperingatkan kalau biasanya awal-awal bulan Desember itu banjir tapi tidak usah khawatir karena tanah dan rumah-rumah di desa kami yang cukup tinggi, air paling cuma sampai kolong saja. Apalagi posisi tanah rumah saya yang jauh lebih tinggi dari jalan utama masuk desa. Aman lah biasanya. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi kalau di jalan utama minimal air setinggi perut orang deasa. Nah kalau setinggi itu, biasanya di rumah kami cuma sekitar lima senti saja dari tanah. Bahkan jalan di depan tumah nggak ada air. Alhamdulillah banget kan?

Namun banjir ternyata tidak datang pada bulan Desember. Saya ini lumayan bingung mau bersyukur atau tidak. Saya ingin sekali merasakan banjir. Tidak hanya karena saya tidak pernah sekalipun merasakan bencana alam di daerah saya kecuali gempa-gempa kecil karena ada gempa dasyat di daerah lain (contohnya gempa Jogja dulu), tapi karena saya juga ingin merasakan bagaimana sih menjadi orang-orang sini. Ingin merasakan nelongso nya hidup di sini sebagai pengalaman dan pembelajaran hidup.

Banjir datang di akhir bulan Februari ketika kami sibuk dengan Ujian Sekolah. Waktu itu seminggu sebelum Ujian sekolah, air setinggi lutut sudah memenuhi jalan utama. Yup, seperti foto saya di bawah ini. Saya berada di tengah-tengah jalan utama menuju sekolah. Itu pagi sekitar pukul 8.00 WITA.
Februari 2016
Saya sangat terenyuh ketika hampir sebagian murid tetap berangkat. Kata mereka "Kan cuma selutut, Bu" Namun ternyata ya cuma kami bertiga guru SM-3T saja yang berangkat bersama sebagian murid. Kami akhirnya menghubungi Kepala Sekolah yang ternyata sudah diperjalanan. Sekolahpun diliburkan. Sampai kapan? Ya sampai banjir surut. Inilah susahnya karena seminggu lagi kami harus Ujian Sekolah. Ya sudahlah, terima saja. Nah ini kondisi rumah dan halaman kami ketika banjir pertama datang. Aman-aman saja kan?


Ada yang unik ketika banjir, yaitu ada pernikahan. Waduh, udah udah jauh-jauh direncanakan malah banjir. Bukan salah kedua keluarga karena biasanya Februari bukanlah bulan banjir. Sang pengantin perempuan tinggal di desa sebelah sekolah, jadi jelas di sana tidak kebanjiran. Namun jalan utama banjir sedada saya. Tinggi saya 153 cm, jadi ya bisa bayangkan lah. Saya dan teman-teman disuruh untuk rewang atau bantu-bantu masak. Kamipun pergi ke rumah pengantin wanita menggunakan perahu. Inilah foto kami. Yang paling depan, cowok pendayung itu murid saya. Yang cowok kedua saudara ibu pendeta, yang cewek itu teman SM3T saya. Saya nggak kelihatan hahaha yang memphoto soalnya.


Perahu alat transportasi utama
Nah untuk masalah rewang, saya bahas di part lain. Nanti saya juga ceritakan nikah dll nya. Nah pas hari pernikahan, mobil yang sudah disiapkan jelas tidak bisa digunakan. Akhirnya pengantin dibawa dengan perahu menuju gereja yang ada di depan rumah saya. Pernikahan berlangsung lancar, alhamdulillah. Kami pun juga harus naik perahu untuk menuju rumah resepsi. Tak disangka ada pengalaman menarik ketika kami pulang resepsi, tapi saya ceritakan di part lain yang membahas rewang dan pernikahan ya hehehehe Maaf.

Uniknya, hari Minggu banjir surut. Bahkan air sudah hilang. Akhirnya Ujian Sekolah bisa dilaksanakan deh. Dan anehnya lagi, setelah Ujian Sekolah banjir datang lagi beberapa hari kemudian. Whaaat?? Aneh kan? Saya juga mikir begitu.

Hari Jumat pertengahan bulan Maret, air sudah memasuki halaman rumah saya, yang artinya jalan utama sudah setinggi leher orang dewasa. Saya pun mungkin sudah tidak tampak karena saya pendek. Air terus naik sampai sore dan akhirnya warga desa saya pergi mengungsi. Alhamduillah, ibu pendeta memiliki rumah di desa sebelah sekolah, jadi kami tidak usah pergi jauh.

Ini adalah foto halam rumah saat siang hari, beberapa jam sebelum saya mengungsi


Arif dan keponakan ibu pendeta yang laki-laki yaitu Dendri menyusun kayu dan kursi-kursi untuk membuat panggung. Saya mengemas barang-berang penting seperti koper kami, laptop dll. Saya mencoba sebaik-baiknya untuk Ryma karena dirinya sedang di kota. Pukul 18.00 WITA, saya dan kelaurga ibu pendeta mengungsi menggunakan perahu yang kalian bisa lihat di foto di atas itu. 

Sesampainya kami di sana, kami mulai menggelar tikar, bersih-bersih, masak, dll. Saya jadi merasakan bagaimana capeknya apabila terjadi bencana. Hujan juga tiba-tiba turun membuat kondisi sedikit mengkhawatirkan karena air terus naik. Jam 22.00 WITA, suami ibu pendeta yang tinggal di rumah untuk menjaga barang memberitahu bahwa rumah sudah tidak bisa menampung lagi barang-barang berharga sehingga banyak barang yang harus diungsikan. Alhasil malam itu saya dan ibu pendeta harus menggotong barang-barang dari batas air ke rumah ibu pendeta yang jaraknya kurang lebih 200-350 meter lah. Kami mengusung barang sampai jam 24.30 WITA. Capek tidak terasa karena adrenalin terpacu, khawatir ada apa-apa.

Ini adalah penampakan rumah kami saat air mencapai ketinggian maksimal.

Yang paling parah adalah desa sebelah yaitu Damai Kota karena rendahnya tanah di sana. Banyak rumah murid saya yang hanya tinggal atap doang. Bahkan banjir di sana sampai masuk berita di koran lokal. Silahkan google saja dengan kata kunci banjir di kecamatan damai desa damai kota kutai barat. Berikut foto-foto nya:
Tinggal di tempat tinggal asli saya, saya jadi sangat bersyukur karena seumur-umur belum pernah ada bencana. Memiliki pengalaman pernah mengalami bencana menaikkan rasa kepedulian saya. Saat satu bulan banjir, saya banyak belajar bagaimana makan makanan yang jauh lebih sederhana dari biasanya yang sudah sederhana. Ikan-ikan kecil, ketela pohon dan daun singkong menjadi makanan utama kami sebulan itu. 

Selepas banjir, kami dan keluarga ibu pendeta melakukan kegiatan yang sangat melelahkan, yaitu bersih-bersih. Kami harus membantu membersihkan gereja dan rumah ibu pendeta. Selanjutnya kami juga harus membersihkan rumah kami. Untung kami dibantu beberapa anak yang tidak terkena banjir.

Saya teruskan di Part 3C, saya akan menceritakan kejadian menarik yang saya alami saat banjir. See you.
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

2 comments: