Hari Guru Nasional, Saat Tepat untuk Merenung

Kemarin, tanggal 25 November adalah peringatan hari guru nasional. Di timeline medsos saya bejubel ucapan selamat hari guru, baik itu dari sesama rekan guru atau dari mantan murid-murid saya, terutama mereka yang dulu saya ajar ketika mengikuti SM-3T. Yup, siswa-siswi SMA Sari Mentanang Damai, Kutai Barat. Saya sangat terharu ketika ucapan terima kasih diberikan karena jujur, saya merasa belum melakukan hal yang terbaik untuk mereka. Satu tahun itu singkat sekali. Namun saya juga bersyukur setidaknya telah memberi beberapa dampak positif di sana sebagaimana yang dikatakan Bapak Kepala Sekolah.

Bicara soal guru, saya jadi teringat perkataan banyak orang non-akademis yang mengatakan, "Jadi guru kan cuma mengajar, jam 13.00 pulang. Trus bikin soal, dinilai, sudah." Wah jadi guru tidak segampang itu ladies and gentlemen. Banyak hal yang membuat stress, terutama apabila sudah menyangkut kurikulum.

Percaya atau tidak, mayoritas guru lebih mengkhawatirkan masalah kurikulum daripada siswa mereka. Kenapa? Karena mereka mengenal siswa mereka. Kurikulum yang selalu berganti setiap ganti menteri, membuat guru bingung. Kurikulum terbaru yaitu K-13 sukses membuat pro kontra di kalangan akademis. Bahkan Kak Seto malah bilang kurikulum ini dapat melahirkan psikopat. 

Memang, secara garis besar semua kurikulum itu sama. Intinya mencetak siswa yang mampu bersaing di era globalisasi dan sesuai tuntutan jaman. Namun apa daya apabila sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas lengkap dituntut mengikuti kurikulum yang mengedepankan kemajuan teknologi? Bagaimana juga sekolah-sekolah yang berSDM rendah harus mengembangkan diri mereka sendiri hanya dengan bantuan guru yang bersifat fasilitator sementara merekalah yang harus aktif mengumpulkan informasi? Saya mengalami hal ini, jadi saya tahu betapa sulitnya mencetak murid-murid yang sesuai dengan era globalisasi namun tidak seberuntung mereka yang sekolahnya memiliki fasilitas lengkap.

Selain kurikulum yang masih menjadi pro kontra, kualitas guru di Indonesia juga masih kurang. Guru-guru banyak yang mengajar tidak sesuai dengan kompetensi mereka dan ini tidak hanya terjadi di daerah 3T (Terdepan, Terbelakang, Tertinggal. Mungkin bisa ditambah Tak Terdeteksi, Terpelosok, dll). Di daerah sekitar saya, ada sarjana berlatar belakang Pendidikan Bahasa Indonesia yang malah mengajar Bahasa Jawa. Di tempat saya mengabdi selama menjadi SM-3T, saya sering mendengar keluh kesah teman-teman saya di mana guru-guru tidak hanya mengajar bukan dari background pendidikan tapi juga kedisiplinan mereka. Hal ini akan mengakibatkan malteaching. Seorang guru merangkap dua sampai tiga mata pelajaran, membuat pengetahuan yang diberikan jelas tidak akan selengkap guru aslinya.

Pengalaman yang saya alami sendiri bahkan sedikit miris. Saya bertemu dengan seorang guru yang memiliki background sama seperti saya yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Jujur, Bahasa Inggris saya masih cethek. IPK saya nggak bagus. Average lah. Namun saya dengan bangga mengakui bahwa saya lumayan dalam mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis atau keempat kemampuan dalam berbahasa. Beliau ini sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, namun ketika beliau berbicara Bahasa Inggris saya sama sekali tidak mengerti. Bahkan teman SM3T saya yang bukan dari Bahasa Inggris sampai ingin tertawa. Banyak juga siswa yang mengeluh karena pronunciation beliau justru sangat berbeda dengan yang mereka sering dengar di lagu-lagu berbahasa Inggris. Dan ini terjadi pada guru dengan background sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan.

Hal ini sangat membuktikan bahwa kualitas guru di Indonesia memang masih kurang dibanding dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, namun faktor utamanya adalah ketidak mauan mengasah kemampuan di luar kelas. Hal ini sangat dapat dilihat tidak hanya di daerah 3T saja. Sebuah pengalaman ketika saya berinteraksi dengan sesama guru Bahasa Inggris di sebuah kota di Indonesia, beliau dengan sendirinya menceritakan bahwa kemampuan beliau menurun karena tidak pernah mengasah Bahasa Inggris beliau. Dalam menyampaikan materi di sekolah pun hampir 90% beliau menggunakan Bahasa Indonesia. Hal ini akan berdampak saat aspek "berbicara dan mendengar" harus diuji. Kalau gurunya saja tidak bisa lancar berbahasa asing yang diajarkan, bagaimana dengan muridnya? 

Ketika saya bertanya apakah pernah mengajarkan pronunciation? Listening menggunakan kaset/monologue? Memberikan speaking test di mana siswa minimal disuruh berbicara tentang mereka sendiri? Bermain role play di depan kelas ketika materi expressions atau teks? Jawaban beliau tidak. 

Memberikan pelajaran praktek yang saya sebutkan di atas sangat penting, bukan hanya untuk siswa namun juga untuk guru sendiri. Guru akan dituntut untuk belajar kembali pronunciation, listening, dan materi lainnya yang akan beliau berikan kepada murid. Hal ini akan meningkatkan kemampuan guru secara tidak langsung.

Dosen speaking saya pernah berkata bahwa meskipun seorang guru itu sudah ke luar negeri, namun masih banyak kekurangan dalam kemampuan berbahasa terutama pronunciation, hal itu disebabkan karena mereka tidak mau berubah. Kerena tidak ada yang mengkoreksi dan tidak mau dikoreksi adalah alasan kenapa mereka tidak mau berubah. 

Kalau Anda sekalian berinteraksi dengan bule, jarang ada bule yang mau mengkoreksi kecuali kalau kita memang minta dikoreksi. Hal itu karena mereka paham kita bukan native speaker, jadi salah itu biasa yang penting bisa berkomunikasi dengan baik saja. Kalau Anda adalah guru junior, saya yakin Anda tidak pernah mengkoreksi guru senior. Dianggap tidak sopan, sok tahu dan sebagainya. Ya kan? Iya. Saya juga mengalami itu. 

Jangankan kepada sesama guru, kepada teman saja terkadang dianggap jelek. Jujur, pronunciation mungkin adalah skill berbicara saya yang paling menonjol. Grammar saya tidak begitu baik, saya juga tidak fluent, namun pronunciation saya baik. Sehingga saya, secara sadar maupun tidak sadar, selalu mengkoreksi pronunciation teman-teman saya, tidak peduli mereka berasal dari jurusan apa. Banyak teman saya yang kesal. Teman sesama Bahasa Inggris saja sampai berkata, "Jangan suka seperti itu." Jujur saya sebenarnya sangat kecewa ketika sesama anak Bahasa Inggris kok malah bilang begitu. Kalau iti dari urusan lain mah, saya maklum.

Karena itu, marilah kita merenung di Hari Guru Nasional ini. Sudah pantaskah kita disebut sebagai seorang guru dengan kemampuan dan kualitas yang kita miliki?

Kalau belum, mari kita belajar. Tidak ada salahnya terus belajar walaupun sudah menjadi guru. Maulah dikoreksi dan mengkoreksi. Maulah meningkatkan kemampuan. Hal ini tidak hanya untuk kita semata namun untuk menciptakan generasi bangsa yang mampu berpikir kritis dan bersaing di era modern ini.

Long live education. Brilliant teachers produce brilliant students.
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment