SM-3T : The Life Part 3A (Reading Habit)


My beloved house in Mendika Village
 I know that many of you are confused of the letter "A". Well, one part is not enough for me to elaborate my life in my SM-3T village. Therefore I decided to create many Part 3. Beware of the upcoming Part 3B, Part 3C Hahahahahaha

Different part, different story. In this part A, I'll tell you about my program. Masya Allah, I am so proud with this program. Before we jump into the story, let me tell you something first.

Saya adalah orang berbackground akademik yang bercita-cita menjadi seorang akademisi jadi saya tidak menyalahkan dan maklum ketika teman-teman saya sering menggoda bahwa saya terlalu ambisius untuk meraih mimpi-mimpi saya, apalagi sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan. 

"Mosok kamu mau begitu, memang bisa?"
"Halah, jangan terlalu ambisius lah, Shin."
"Nrimo, Shin. Kalo ada jalan ya nggak apa-apa, tapi dengan record kamu apa bisa? Kan pengalaman organisasi kamu cuma pramuka doang."

Bahkan orang tua saya saja berkomentar, "Lha kalo kamu maunya begitu ya kelamaan."

BTW, kalimat-kalimat di atas itu topiknya sama. Mencoba meraih mimpi yaitu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun saya nggak mempermasalahkan karena untuk urusan "meneruskan" ke jenjang apapun, dari pendidikan, karir bahkan nikah, tiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan sendiri-sendiri yang tidak bisa kita komentari. 

Apalagi kalau kita tidak pernah bergaul secara dekat dan mengetahui kondisi si empunya mimpi. Saya juga maklum orang tua agak ragu karena dilihat dari umur saya yang sudah tua, namun mereka juga nggak menuntut mimpi itu agar buyar. Saya juga nggak terburu nafsu karena saya masih ada tanggung jawab lain dan meneruskan pendidikan itu terbuka seumur hidup. Jadi saya membekali diri saya dulu dan tidak begitu mempermasalahkan keadaan saya yang belum bisa merealisasikan mimpi saya. 

Seperti kata Pak Jokowi, "Kita perlu konsentrasi, perlu fokus, ada target sasaran." 

Juga penjelasan lebih lanjut maksud beliau melalui Mas Kaesang, "Kita juga belajar untuk bagaimana untuk tidak terburu-buru agar "anak panah" tidak terbuang percuma. Jadi intinya fokus dan konsentrasi akan membantu kita untuk mencapai tujuan kita."  

Dan ini bisa diaplikasikan ke semua hal dalam hidup. Semua.
Namun, yang paling saya tidak suka adalah ketika seseorang mencela sesuatu yang sudah pasti positif tanpa memikirkan lebih lanjut.

"Lha kok mau-maunya ikut SM-3T yang ke pelosok? Apa untungnya? Malah minta dikirimi buku-buku segala, buat apa? Memang mereka bisa baca ya? Nanti malah nggak berguna."

Komentar ini sangat membuat saya marah. Biasanya kalau ini yang komentar sahabat saya dan teman-teman saya, saya langsung ke "lecturer mode" di mana saya akan menceramahi mereka sampai kuping panas bibir dower. Atau menulis komen di medsos sampai puaannjanggg. Namun ini datang dari kalangan orang yang masuk ke dalam kategori "sesepuh = harus disegani" sooo??

Saya sangat menghargai yang namanya pengetahuan dan menjunjung tinggi pendidikan. Saya terbiasa berkutat dengan yang namanya buku, kamus, internet, jurnal dkk. Jadi saya sangat tersinggung ketika orang merendahkan buku. Buku adalah jendela dunia. Buku lah yang menjadi sumber pengetahuan bagi siswa-siswa di sekolah, terutama mereka yang belum dapat menikmati kemajuan teknologi.

Yah, saya curhat di sini saja. Sahabat saya sibuk melaksanakan tugas mulia sebagai guru. Teman-teman terdekat saya sibuk dengan kegiatan-kegiatan, skirpsi, thesis mereka. Toh ini juga bukan sesuatu yang negatif. Ya kan? Ya kan? Iya.

Nah, ceritanya kan saya punya program "taman bacaan mini" di sebuah sekolah minggu karena desa saya mayoritas Kristen dan saya juga tinggal di pastori. Sehingga akses untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih sering setelah sekolah minggu dan ketika ada kegiatan di gereja. Saya menghubungi semua teman-teman dan relasi untuk mengirimkan buku apa saja yang penting bacaan bermutu. Alhamdulillah, teman-teman saya mengirimkan majalah Bobo, buku cerita, bahkan buku pelajaran bahkan buku rohani. Saya sangat senang sekali. Ratusan buku telah terkumpul dan sekarang saya berusaha merayu anak-anak yang hobinya bermain ini untuk membaca.

Seperti quote yang saya cantumkan tadi. "Kita juga belajar untuk bagaimana untuk tidak terburu-buru agar "anak panah" yang kita lepaskan tidak terbuang percuma. Jadi intinya fokus dan konsentrasi akan membantu kita untuk mencapai tujuan kita."

Pendekatan pun dimulai. Gampang-gampang susah, memang karena minat membaca di sini sangat kecil. Anak-anak lebih suka bermain kapanpun dan di manapun. Untungnya, majalah-majalah dan buku-buku yang dikirimkan mempunyai gambar-gambar ilustrasi yang menarik sehingga anak-anak minimal tertarik untuk melihat-lihat dahulu. 

Semakin lama mereka juga pasti akan curious dengan isi ceritanya. Akhirnya, alhamdulillah semakin hari semakin banyak yang datang ke rumah saya untuk membaca baik itu di tempat maupun di pinjam untuk dibawa pulang. Bahkan ada wali murid yang ingin membeli. Tapi saya tidak perkenankan. Membeli akan menjadikan buku-buku ini milik pribadi, sedangkan saya ingin buku ini milik taman bacaan karena berarti semua orang bebas untuk meminjam dan membaca. 

Sayangnya keceriaan tidak berlangsung lama. Yah menjelang awal tahun baru 2016 hujan mulai deran dan bulan Februari ada banjir. Karena faktor bencana alam inilah akhirnya saya menganjurkan teman-teman saya untuk tidak mengirim buku dan majalah mereka dahulu. Akhirnya saya yang kena marah anak-anak hehehehe

"Ka, mana buku barunya?"
"Ka, katanya mau kirim buku lagi."
"Ka Shinta bohong."

Waduh yang terakhir itu sangat jleb hehehehe Tapi saya maklum. Saya sediri juga gemes sama banjir yang nggak surut-surut. Lha, saya menikmati sih karena nggak pernah kebajiran pas di Jawa. beruntung seminggu kemudian banjir surut. Saya sudah senang sekaleeee....

Eh, seminggu habis banjir lagi. Piye to? Dan ini malah hampir sebulanan wkwkwkw Sebulan kegiatan saya mengungsi (naik perahu dan angkat-angkat barang sampai jam 12 malam), masak, ke kota bentar nunggu UN, bersih-bersih dan bermain perahu hehehehe Senang sih, pengalaman kedua bencana alam setelah bencana asap.

Namun alhamdulillah, setelah banjir selesai buku-buku dan majalah langsung datang!! Yay Yay Yay! Anak-anak senang dan saya pun senang...

Some amazing children
Setelah saya pulang dari Desa Mendika, saya terus memantau bagaimana keadaan buku-buku yang saya tinggalkan dan bagaimana minat membaca anak-anak. Alhamdulillah Ibu Afli mengabari bahwa anak-anak sangat senang dengan buku baru dan sangat aktif membaca dan meminjam. Bahkan seorang guru teman Ibu Afli juga senang dengan adanya buku-buku tersebut. Ibu guru tersebut memberitahu bahwa anak-anak didikan beliau sangat senang dengan majalah tersebut. Setiap seminggu sekali, sang ibu akan meminjam banyak buku untuk siswa beliau. Yang paling membuat saya senang adalah kata beliau orang tua murid dan nenek-nenek di daerahnya juga sekarang rajin membaca dan meminjam buku dan majalah yang saya sediakan. Beliau meminta dikirimi buku dan majalah lagi. Alhamdulillah....

Semoga hal ini dapat meningkatkan minat membaca di daerah sana dan saya berdoa kepada Allah semoga saya dapat mengirim buku kembali ke sana, Desa Mendika yang saya cintai. Semoga ini menjadi motivasi saya untuk terus berusaha meningkatkan minat baca anak-anak. Yah walau hanya sebatas ini, namun saya sangat senang. Sedikit demi sedikit, karena hanya segini kemampuan saya saat ini.

Well, TBC to the Part 3B
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment