Bullying : Peran Penonton (Bystander)


Kata "bully" atau "bullying" menjadi kata yang sangat familiar di kalangan masyarakat beberapa tahun ini. Hal itu dikarenakan banyaknya kasus bullying yang terjadi di berbagai tempat. Para pelaku bullying rata-rata adalah pelajar, baik itu siswa SD, SMP, SMA dan bahkan mahasiswa.

Salah satu kasus bullying yang viral akhir-akhir ini adalah kasus bullying siswa SMP di Tamrin City Mall di mana para remaja yang masih labil ini dengan bangga disaksikan oleh teman-temannya membully seorang anak. Mereka bahkan dengan bangga mengijinkan aksi mereka untuk direkam dan difoto dan disebarkan. Kasus ini tentunya tidak hanya menjadi tamparan bagi SMP di mana remaja-remaja ini bersekolah, namun juga tamaparan bagi orang tua yang tentunya sangat malu akan apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Kasus lain adalah kasus "bullying" yang terjadi di salah satu universitas ternama di Indonesia, di mana mahasiswa membully seorang mahasiswa berkebutuhan khusus. Hal ini tentunya sangat disayangkan oleh berbagai kalangan karena mahasiswa harusnya menjadi tumpuan masa depan bangsa di mana saat-saat inilah mereka harus berpikiran kritis dan dewasa untuk memajukan negara ini.

Banyak hal yang mendasari terjadinya bullying seperti rasa cemburu, mencari perhatian, ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi, meniru tingkah laku keluarga, dll. 

Dalam setiap kasus "bullying" terdapat tiga orang yang telibat: pelaku, korban dan penonton atau bystander. Dari dua video tentang bullying yang disebutkan di atas, kita bisa melihat bahwa pelaku bullying menyukai keramaian di mana terdapat "bystander" atau penonton yang menyaksikan perbuatan mereka. Banyaknya penontok akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri pelaku yang beranggapan bahwa mereka lebih baik dan memegang kontrol akan si korban. 

Di sinilah peran penonton (bystander) diuji. Apa yang akan mereka lakukan apabila melihat bullying di depan mereka? Hanya melihat? Kabur? atau membela si korban?

Penonton yang tidak melakukan apa-apa biasanya bingung dan tidak tahu bagaimana bersikap ketika kejadian itu berada di depan mereka. Penonton yang tetap berada di tempat terjadinya bullying dan menonton tanpa melakukan sesuatu akan memberikan asumsi kepada di pelaku bahwa tindakan yang mereka lakukan benar, tidak salah. Mereka merasa menjadi "pemenang" dan si korban adalah si kalah. They love the attention they get from the audience. Wajah-wajah takut atau bahkan mungkin kekaguman dari penonton membesarkan ego para pelaku bullying. Selain bingung, salah satu alasan adalah identitas pelaku dan korban yang membuat penonton takut apabila mengintervensi karena para penonton ini kemungkinan bisa menjadi korban selanjutnya. Alasan-alasan ini memang masuk akal, namu apabila terus dilakukan maka bullying akan terus terjadi.

Bagaimana dengan penonton yang memilih meninggalkan tempat kejadiak bully? Padgett dan Notar (2013) mengatakan bahwa "Bystanders who flee the scene of a bullying event unknowingly play a role in encouraging bullying, and allow bullies to enjoy disproportionate freedom at the expense of others, as well as breeding further conflict. Watching without intervening actually reinforces bullying behavior." Penonton yang memilih untuk meninggalkan lokasi bullying malah membuat pelaku semakin bebas melakukan apa yang mereka inginkan dan tentu saja akan menambah kerumitan konflik yang ada. Tidak akan ada yang membela dan membantu korban apabila hal-hal yang tidak diinginkan atau melebihi batas terjadi.

Lain halnya dengan penonton yang secara spontan membantu atau membela korban bully. Padgett dan Notar (2013) menjelaskan bahwa "Bystanders who speak out and do not remain silent in the face of inappropriate behaviors are committed to resisting such injustice, and discourage bullying." Penonton yang tidak tinggal diam akan menjadi ally atau pembela si korban. Hal ini tentunya akan membuat pelaku bullying berpikir dua kali untuk terus melakukan aksinya. Semakin banyak penonton yang tidak tinggal diam, maka perilaku bullying akan berkurang dan mungkin tidak akan terjadi lagi. 

Karena itu, untuk mencegah dan mengurangi banyaknya kasus bullying, para bystander atau penonton memiliki peran penting yaitu melerai, membela dan membantu si korban. Apapun alasan yang diberikan pelaku tetaplah tidak membenarkan apa yang mereka lakukan. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan melaporkan kejadian ini ke pada pihak yang berwenang, contohnya kepolisian atau kepala sekolah atau siapapun orang berpengaruh di sekitar tempat kejadian. Mari kita cegah dan hentikan perilaku yang tidak baik ini demi generasi-generasi muda yang lebih baik. 

Daftar Pustaka:
Padgett, Sharon and Notar, Charles E. 2013. Bystanders are the Key to Stopping Bullying. Universal Journal of Educational Research 1(2) : 33-41

Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment