Kisah Di Balik Kue Pengantin

Ketika berada di sebuah pesta pernikahan, maka bagi saya yang paling menarik bukanlah kedua mempelai yang ada di panggung, tetapi makanan! Ya percaya atau tidak, saya suka sekali makan, apalagi yang manis-manis. Jarang kan ada cewek yang berani bilang begitu, tapi dengan bangga saya umumkan.

Kebanyakan resepsi pernikahan yang saya datangi dengan keluarga bernuansa tradisional, jadi banyak makanan tradisional yang tersaji di meja yang panjang. Tapi suatu ketika saya datang ke sebuah resepsi di mana ada sebuah kue pengantin yang simple tetapi menarik. Sayang tidak boleh dimakan sama tamu... mungkin karena ukurannya yang kecil, jadi kalo dibagi-bagi habis dah..!

Saya jadi ingin tahu tentang asal usul kue pengantin. So, saya browsing deh dan viola inilah hasilnya...

Dalam bukunya yang berjudul Wedding Inspiration, perancang busana pengantin, Tina Andrean menuturkan, bahwa asal kue pengantin adalah dari tradisi masyarakat Romawi Kuno yang memecahkan roti di atas kepala pengantin wanita. Tradisi ini merupakan sebuah pengharapan. Bahan-bahan dari kue pengantin, seperti gandum, tepung, dan butiran padi merupakan simbolisasi dari harapan kesuburan untuk si pengantin dan pasangannya.

Sementara di Inggris, sekitar abad pertengahan, tradisinya adalah para tamu membawa kue sebagai hadiah untuk pasangan yang menikah, kemudian ditumpuk sehingga membentuk pilar. Saat itu, dipercaya bahwa makin tinggi kue yang terbentuk, maka pasangan yang menikah dan berciuman di depan kue tersebut akan memiliki hidup yang baik dan makmur.
Dari tradisi-tradisi ini, seorang koki pada zaman Raja Charles II mengadaptasi dan membuat sebuah kue pengantin yang tinggi, lalu meletakkan miniatur pasangan pengantin di atasnya. Lalu, perkembangan tradisi inilah yang terus populer hingga sekarang. Tradisi lain seputar kue pengantin adalah pemotongan kue bersama oleh pasangan pengantin yang menyimbolkan kebersamaan pasangan tersebut dalam berbagi kehidupan. Lalu, pasangan tersebut saling menyuapi sebagai tanda bahwa mereka akan makan bersama untuk pertama kalinya. Membagikan potongan kue untuk para undangan, merupakan simbol bahwa sang pengantin membagikan kebahagiaannya dengan para tamu.

Zaman dulu, kue pengantin hanya menggunakan warna putih, baik bagian dalam maupun bagian luarnya. “Sekarang ini, kue pengantin tak hanya sebagai makanan penutup, tapi lebih sebagai bagian perpanjangan dekorasi acara. Warnanya dan modelnya disesuaikan dengan dekorasi yang ada. Bahkan sebenarnya kue-kue yang bertingkat sudah tak ada isinya, jadi hanya bagian luar saja. Sementara jatah isi tersebut, biasanya dibuat dalam bentuk kecil-kecil dan diberi kemasan untuk dibawa pulang oleh para tamu undangan,” terang Novi Kirana dari toko kue pengantin Le Novelle. Saat ini pilihan kue pengantin sudah sangat beragam dari bentuk dan rasa. Kue ini selain sebagai simbol juga sebagai penambah manis dekorasi. Jangan lupa disesuaikan dengan kondisi ruangan resepsi, warnanya, dan tingkatannya agar tampak harmonis di hari penting Anda dan pasangan.
Share on Google Plus

About Shinta Devi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment